Sejarah Kerajaan Banten , Masa Kejayaan dan Kehancuran

Ketahui sejarah kerajaan Banten, masa kejayaannya dan kehancurannya

Assalammuallaikum warahmatullahi wabarakatuh, ulasan ini didasarkan pada sumber sejarah yang kita tahu, kami meninjau sejarah lengkap Kerajaan Banten, masa kejayaannya dan periode kehancurannya.

Kerajaan Banten – Dilansir dari waheedbaly kerajaan Banten adalah salah satu bukti sejarah dari kekayaan keanekaragaman kekayaan alam dan budaya Indonesia, karena sejarah itu tidak boleh dilupakan karena mengetahui sejarah kita bisa mengetahui masa lalu dalam rangka untuk membuat masa depan yang lebih baik.

Berikut adalah sedikit penjelasan tentang sejarah Kerajaan Banten di atas berdasarkan pada dokumen sejarah:

Sejarah kerajaan Banten

Pada awal abad ke-16, kerajaan Banten dikenal sebagai Kesultanan Banten, yang merupakan kerajaan Islam yang terletak di provinsi Banten, kerajaan ini memiliki sejarah panjang hampir tiga abad, hingga mencapai puncaknya dan ia bahkan digantikan oleh pemerintah India Timur Belanda pada waktu itu,

Sebelum menjadi sebuah kerajaan, Banten sebelumnya dikenal sebagai Banten Girang, bagian dari Kerajaan Sunda, sekitar 1526 Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan terbesar pada waktu itu, berhasil menaklukkan daerah di sekitar pantai barat Jawa dan menaklukkan beberapa daerah pelabuhan untuk menjadi basis port.

Berdasarkan catatan sejarah kedatangan Kerajaan Demak yang pada saat itu dipimpin oleh Maulana Hasanuddin (Pangeran Saba Kingking), serta memperluas wilayah dan menyebarkan ajaran Islam, yang kemudian dipicu karena jalinan kerja sama antara Portugis dan bahasa Sunda di bidang ekonomi dan politik, karena dikhawatirkan dapat membahayakan Posisi Kerajaan Demak pada 1513 yang kemudian gagal mengusir Portugis dari Malaka.

Sekitar tahun 1527, di bawah komando Trenggana bersama dengan Fatahillah, Sunda Kelapa ditaklukkan, yang pada waktu itu adalah pelabuhan pusat Kerajaan Sunda

Selain mendirikan benteng, dalam upayanya, khususnya Maulana Hasanuddin untuk memperluas wilayah ke Lampung sebagai penghasil lada, ia juga berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di daerah tersebut.

Kemudian ia memulai hubungan bisnis dengan Raja Minangkabau, atau Sultan Munawar Syah dari kerajaan Inderapura, yang kemudian menugaskan keris untuk Maulana Hasanuddin.

Setelah kematian Sultan Trenggono, kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten, yang merupakan bagian dari kerajaan Demak, mulai berpisah dan menunjuk Sultan Maulana Yusuf, putra Sultan Maulana Hasanuddin sebagai raja pada 1570.

Puncak kejayaan kerajaan Banten

Puncak kejayaan Kerajaan Banten, ketika dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1561-1682, di bawah kepemimpinannya Banten pada waktu itu memiliki armada kerajaan yang sangat kuat dan mempesona dan mempekerjakan orang Eropa di Kesultanan Banten.

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kerajaan Banten berhasil menaklukkan Kerajaan Tanjung Pura sekitar tahun 1661, dan berhasil melarikan diri dari kendali VOC yang telah memblokir kapal-kapal dagang di Banten.

Dalam kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Kerajaan Banten terus mengalami kemajuan, hingga sekitar tahun 1680 Kerajaan Banten mengalami konflik internal akibat pergulatan dan perselisihan antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji.

Karena konflik ini, VOC mengambil keuntungan dari ini dengan memberikan dukungan dan mempersenjatai pasukan Sultan Haji, sehingga bentrokan tak terhindarkan antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji.

Dari pertempuran, Sultan Ageng terpaksa menarik diri dari istananya dan pindah ke daerah yang disebut Tirtayasa.

Tetapi ketika pada 1682, wilayah Tirtayasa juga dikendalikan oleh Sultan Haji dan VOC, memaksa Sultan Ageng untuk mundur dari pedalaman Makassar dari Sunda, pada 1683 Sultan Ageng ditangkap dan dipenjara di Batavia.

VOC tidak berhenti di situ, pada tahun 1683 VOC mengirim utusan dari Untung Surapati dengan pasukan Bali dan bergabung dengan Johannes Maurits Van Happel untuk menaklukkan daerah Pamotan dan Dayeuh Luhur.

Dia kemudian menaklukkan daerah itu dan menangkap Syeh Yusuf yang merupakan putra Sultan Ageng, kemudian setelah ditekan Pangeran Purbaya menyerah untuk selamanya.

Penghancuran Kerajaan Banten

Pada tahun 1808-1810, Gubernur Hindia Belanda yang saat itu dipimpin oleh Herman Willem Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk membangun pembangunan Jalan Pos dan memindahkan ibukota ke Anyer, untuk mempertahankan pulau Jawa. dari serangan Inggris, tetapi Sultan Banten pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Abu Mahasin Muhammad Zainul Abidin menolak.

Sebagai hasil dari penolakan, Willem Daendels menyerang Kerajaan Banten dan menghancurkan Istana Surosowan, kemudian Sultan dan keluarganya ditahan, ditahan di Puri Intan (Istana Surosowan) dan dipenjara di Benteng Spellwijk, sementara Abul Nashar Sultan Muhammad Ishaq Zainulmutaqin adalah diasingkan ke Batavia.

Sehingga kejadian tersebut menjadikan Kerajaan Banten menjadi pemerintahan Hindia Belanda, hingga pada 1808, Willem Daendels sebagai Gubernur Hindia Belanda pada waktu itu mengumumkan bahwa Kerajaan Banten menjadi wilayah Hindia Belanda.

Hingga akhirnya pada tahun 1813, Kerajaan Banten atau Kesultanan Banten dihapuskan oleh pemerintah kolonial Inggris, pada tahun yang sama Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyidin Zainussalihin yang merupakan pemimpin terakhir dipaksa untuk turun tahta dari Kerajaan Banten oleh Thomas Stamford Raffles sehingga hancur dan kerajaan Banten berakhir.

Sementara Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin diasingkan ke Batavia. Sehingga kejadian tersebut menjadikan Kerajaan Banten menjadi pemerintahan Hindia Belanda, hingga pada 1808, Willem Daendels sebagai Gubernur Hindia Belanda pada waktu itu mengumumkan bahwa Kerajaan Banten menjadi wilayah Hindia Belanda.

Hingga akhirnya pada tahun 1813, Kerajaan Banten atau Kesultanan Banten dihapuskan oleh pemerintah kolonial Inggris, pada tahun yang sama Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyidin Zainussalihin yang merupakan pemimpin terakhir dipaksa untuk turun tahta dari Kerajaan Banten oleh Thomas Stamford Raffles sehingga hancur dan kerajaan Banten berakhir.

Demikian ulasan singkat tentang sejarah kerja Banten yang dapat dibahas pada kesempatan ini semoga bermanfaat.

Terima kasih salam